ABET MOTE; BUTUH FIGUR PEMIMPIN YANG MAMPU FORONTIR MASALAH PAPUA -->

Atas Google AdSense

Baru GA

GA

Google AdSense

JP banner


ABET MOTE; BUTUH FIGUR PEMIMPIN YANG MAMPU FORONTIR MASALAH PAPUA

ADMIN
31 October 2021, Sunday, October 31, 2021 WIB Last Updated 2021-10-31T12:20:52Z
JP
Abet mote



Kajian asil DIPOL 

Yosep Adii:

Abet mote

NAPAS (Nasional Papua Solidarity)



NABIRE,JALAPAPUA.COM-Opini, Bayang-bayang Intervensi diperalat kuasa kegelapan berorintasi taruhan perpolitikan yang bernuansa Konpirasi"


Papua suatu kawasan bagian barat new Guinea Melanesia adalah kawasan misterius, kawasan yang dilanda berbagai ketimpangan yang memerlukan publik figur bermetal baja, terutama kawasan teluk cenderawasih PAPUA. 


Papua terletak pada kedudukan 0 19’ - 10 45” LS dan 130 45’ – 41 BT, menempati setengah bahagian barat dari Papua New Guinea yang merupakan pulau terbesar kedua setelah Greensland. 421.981 km2, membujur dari barat ke timur (Sorong – Jayapura), sepanjang 1200 km dari utara keselatan (Jayapura – Merauke ) sepanjang 736 km .Selain daripada tanah yang luas, lumbung konflik kepentingan berkepanjangan dan kesuburan Ekologis tampa Batas. 


Papua bukan hanya jejak Ekspansi Indonesia. Papua juga adalah jejak kaki bangsa Eropa, Ameica dan Espansi Spanyol Portugis Tidore adalah kawasan kunjungan mereka di Abad Pertengahan. Hingga, 2 Mei 1963, Papua menjadi bagian Itegral Indonesia secara de Jure dan Defakto menjadi konflik kepentingan berkepanjangan. Papua menjadi lahan konflik kejahatan Struktural Masif dan sistematis karena, Setelah 1938, Belanda Memasukan Papua dalam Integrasinya selanjutnya Papua menuntut keluar dari Belanda pada 1 Desember 1961. 



Belanda Ijinkan Papua Menjadi Negara Baru yaitu Negara West Papua de Fakto Papua berdiri menjadi sebua negara Merdeka selama 19 hari yang berali fungsi ke tangan Indonesia pada 2 Mei 1963. Sepanjang tahun-tahun itu pro dan kontra Negara Belanda dan Negara Indonesia tidak ada habisnya. De Jure (Kedautan Papua ditangan Indonesia) dan  De Fakto (Kedaulatan Papua ditangan Sekutu Belanda), Akibat, Papua yang Krisis Kepemimpinan yang dapat membawa Papua ke Era Baru yaitu Papua Yang Terlepas dari segala penjajahan sehingga Belanda Menyerahkan Papua melalui PBB kepada Indonesia oleh penekanan Amerika Serikat pada tanggal 15 Agustus 1962.



Hal ini menggabarkan bahwa Perubahan Papua ada ditangan PEMIMPIN PERUBAHAN Pemimpin adalah tolak ukur perubahan melawan kuasa kegelapan diteluk cenderawasi bukan pemimpin yang lahir dari konpirasi dan kriminal Demokrasi. Musyawarah Papua 1969 tidak terlaksana dengan baik sehingga Melahirkan "Konflik Kepentingan Berkepanjangan" yang mestinya tidak boleh terjadi. 


35 Tahun Papua Menjadi DOM (Daerah Operasi Militer) terutama Papua bagian tengah adalah sasaran kelompok bersenjata yang harus dibasmi secara massal telah menghambat Papua Bagian Tengah berjalan Mundur. Tampa Perubahan yang dapat memberi dampat kemasalahatan secara menyeluruh yaitu perubahan papua yang dapat sejajar dengan Provinsi Lain Di-Indonesia.


Kemunduran Papua bagian tengah terjadi kemunduran juga akibat Praktek-Praktek KKN-Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Tetapi juga praktek praktek Penyakit Sosial bertumbuh subur., 1969 Penyakit Sosial disebut 3BP Bar, Bir dan Bor dan Porkas dan diera otsus 2001-2021, disebut Togel, Dadu, Miras, dan Porostitusi adalah Operasi Militer selain Pelanggaran Kemanusiaan verbal dan non Verbal adalah proyeksi tangan besih. 


Tangan besih telah meretakan Pluralisme. 15 hingga 23 Agustus adalah Hari Kebangsaan  Pluralisme Kemerdekaan  Negara Republik yang ke 76, Papua Melanesia adalah bagian yang harus diselesaikan Konflik Kepentingan Berkepanjangan Rasisme dan Akar Historis Persoalan Papua sebagaimana dalam dalam buku "Tindakan Pilihan Bebas Karya Pj. Droggelever. Tetapi, Buku Bapa Pluralisme Karya Gubernur Papua Lukas Enembe S. IP, M.IP. harusla menjadi cerminan dalam memperbaiki Demokrasi Indonesia dalam mereformasi Indonesia terutama dikawasan Timur Nusantara setelah 76 Tahun Indonesia Merdeka.


76 Tahun Indonesia Merdeka hanya berhasil membangun Kerajaan Resim Otoritarianisme Demokrasi, Dekosentrasi Kriminal dan Oligarki berujung Rasisme di Era Otsus. "Kriminal Dekosentrasi demokrasi dikorupsi atas kejanggalan otoritarianisme pada anarkisme tak terkendali"


Konsentrasi yang gagal menanganai akar persoalan west Papua melalui sasaran yang tidak tepat melalui spesial autonomi dekonsesntasi kriminal yaitu berujung rasisme kehancuran pluralisme. 


Rasisme adalah rangkaian sistematika skenario colonial beriringan dengan rangkaian skenario kapitalis global Covid 19. Kesamaan lahir di tahun 2019. penyebab daripada. Konflik bersenjata yang terus berkembang di Afganistan, Myanmar, Palesti-Israel, Africa dan West Papua bahkan Amerika tak henti-hentinya konflik rasis menjadi kebutuhan kebudayaan tak terpatakan. 


Konflik rasisme yang terus menciptakan konflik horizontal dan vertikal diatas tanah west Papua adalah kesuburan daripada genosoid selain genosoid daripada covid 19 adalah negara gagal kelola konflik dan demokrasi yang terus mensuburkan kririnal demokrasi dan reformasi kontitusi dikorupsi yang dihidupkan oleh otoritarianisme dan anarkisme.


Otoritarianisme yang terus mengirimkan militerisme sebagaimana Amerika terus mengirimkan militernya ke Timur Tengah Afganistan, Palestina-Israel dan pengamanan Pt. Freefort Mc Moran di West Papua. Otoritarianisme ikut mengamankan anarkisme sipil (Buisert Movia Kertel Dagang) yang dikemas dalam penanganan sipil bertangan besi sebagai upaya kekuatan supermasi whaite dalam penanganan supermasi black sebagaimana di konflik yang terus berjalan di africa. tetapi, kesuburan demokrasi America. 


Otoritarianisme colonial menggunakan tangan besih sebagaiman penanganan terhadap Osama Bin Laden oleh kekuatan hukum (Onibuslaw) terhadap Victor F Yeimo. tetapi, Kekuatan Hukum (Onibuslaw) gagal dalam kelola kelompok bersenjata di Puncak Papua Hintan Jaya dan Dhugama West Papua.


Euvoria penanganan konflik yang gagal oleh kapitalis telah melahirkan wajah genosaid melalui covid dalam menpertahankan eksitensi kapitalis akibat tingkat kelahiran diseluru dunia yang memberi beban kepada kapitalis tetapi, penanganan beban rasis yang dimunculkan colonial yang tidak terselesaikan terus tersuburkan anarkisme yang tak terhenti hingga mengancam masyarakat formal (State Comunity). 


Espansi yang tidak terkontrol dalam demokrasi menekan otoritarianisme dan anarkisme sipil dan militer yang terus melanda ketidaknyamanan stablitas kontradiksi ideologis akibat akar persoalan kemanusiaan dan ekologis yang tidak melahirkan KEADILAN.


Referensi: 


1. Jhon Stoot. Ishu-Ishu Global, Jhon, 2007.

2. Frans Maknis, Etika Kenegaraan Modern. 2005.

3. Mistri A Musrin. Flestina-Israel. 2015. 

4. Tindakan Pilihan Bebas. Pj. Droggelever, 2009. 

5. Sejarah Konflik dan Nasionalisme di Papua Barat, Natalius Pigai, 2006.


Penulis Adalah aktivis komunal Abet Mote



Komentar

Tampilkan

No comments:

Post a Comment

Silahkan komentar!

Terkini

(GA)

+
?orderby=published&alt=json-in-script&callback=labelthumbs\"><\/script>");
https://jala-papua-news-default-rtdb.firebaseio.com/